Sabtu, 27 Juni 2015

DAUN JAMBU YANG TERBELAH




Seorang pemuda yang sudah matang dan penuh dengan optimisme menjalani hidupnya yang masih sendiri serta senantiasa berusaha mewujudkan impian-impian besarnya walaupun tampak berat. Ia mendapatkan sebuah kejutan yang benar-benar membuatnya sangat bahagia.

Diawal tahun dia mendapatkan sebuah hadiah dari seorang teman baiknya, hadiah itu terbungkus sangat rapi nan menawan, sangat menarik untuk dipandang meskipun belum bisa dibukanya saat itu juga. Kemudian sang teman menyerahkan hadiah itu dan juga sepucuk surat diatasnya, 'bacalah surat ini terlebih dahulu sebelum membuka hadiah ini', sang pemuda pun bergegas untuk pulang dan segera membuka sepucuk surat yang dibawanya, di surat itu tertulis 'bukalah hadiah itu setelah mendapat ijin dari pemiliknya'. Dia tampak bingung memikirkan isi surat itu, dia bertanya-tanya siapa pemilik dari hadiah tersebut. 

Hari demi hari iapun mencari-cari tahu siapa pemilik hadiah itu, bahkan iapun ingin membuka hadiah itu karena merasa tidak ada yang tahu, namun niat untuk membukanya ia urungkan karena ia berprinsip walau tidak ada orang yang tahu ada Sang Maha Melihat yang senantiasa mengawasinya. Hari demi hari, tiap ia di rumah, ia pandang hadiah itu, seolah ada harapan besar yang mungkin dia rajut, ada impian besar yang mungkin dia gapai, ada potensi besar yang mungkin bisa ia kembangkan setelah membuka hadiah itu. Bahkan ketika ia keluar rumah ia pun mulai terus terpikir tentang isi hadiah itu, bahkan ketika di musholla iapun terus dihantui rasa penasaran dari isi hadiah itu yang baru kali itu ia rasakan selama hidupnya.

Tidak terasa sejak diterimanya hadiah itu, lima bulanpun berlalu dan diapun belum menemukan siapa pemilik hadiah itu sebenarnya. Maka diapun mulai sadar bahwa tidak ada yang mampu dimintai pertolongan lagi selain Sang Maha Penolong. Diapun pergi ke musholla tempat biasa dia melakukan sembahyang. Setelah beberapa kali ia lakukan hal itu, benar saja petunjuk itu benar datang, sekarang ia mulai tahu siapa pemilik hadiah itu sebenarnya, walau tempatnya agak jauh dari desa tempat ia tinggal dia bertekad untuk menemui sang pemilik itu hanya demi bisa melihat isi dari hadiah itu. Pagi-pagi sekali sebelum sang mentari terlihat dari ufuknya, iapun pergi meninggalkan desa tanpa membawa hadiahnya. Akhirnya iapun bertemu dengan sang pemilik hadiah itu, namun sang pemuda itu sangat terkejut setengah mati, karena sang pemilik mengatakan 'wahai anak muda bukalah hadiah itu jika kamu ingin dan mampu membukanya'. Sang pemuda dengan gembiranya memeluk sang pemilik dan langsung minta ijin untuk segera pulang berharap bisa segera menikmati isi didalam bingkisan itu.

Sesampainya di rumah dengan mata berbinar-binar dia langsung menuju peti tempat ia menyimpan hadiah itu untuk membukanya. Justru dia merasa lemas, kaget bukan kepalang setelah ia buka peti itu, ia mendapati hadiahnya hilang tidak tahu dimana sekarang berada. Dia merasa kecewa, menyesal karena tidak membawa hadiah itu saat pergi tadi, ia sangat sedih karena ia merasa harapan telah hilang, impian telah musnah, dan cita-citanya lenyap bersama dengan hilangnya hadiah itu, bahkan hampir saja dia putus asa atas kejadian itu. Beruntung dia memililiki teman-teman yang sangat baik, iapun menceritakan kejadian itu kepada teman-temannya. Seketika itu salah seorang temannya mengatakan,

' Katakanlah, 'Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke siang dan Engkau masukkan siang ke malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab. (Ali Imran:26-27)

Setelah menerima nasihat dari teman baik itu iapun mulai rasa tenang, dan sadar bahwa ia telah mulai melupakan Sang Maha Penolong, diakibatkan teralalu memikirkan soal hadiah itu, walau sampai saat inipun lintasan pikiran tentang hadiah itu masih ada. Namun seiring berjalannya waktu ia mulai mendekatkan diri dengan Sang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ia merasa bahwa barang kali hal itu adalah yang terbaik yang Sang Maha Pencipta rencanakan baginya. Ia pun terus mencari hikmah dan pelajaran dibalik peristiwa yang menimpanya. Setidaknya dia bisa merasakan kebahagiaan walaupun hanya lima bulan saja, dimana mungkin orang lain tidak pernah mengecap sedikitpun kebahagiaan yang seperti ia rasakan. Dan dia merasa mungkin hadiah ini tidak yang dia butuhkan namun hanya keinginan semata tanpa dilandasi niat kebaikan. Subhanallah sungguh pemuda yang suka membuat segala sesuatunya menjadi positif, melihat sesuatu dari sudut pandang kebaikan.

-- Dikutip dari Hati --

Semoga sang pemuda dalam cerita itu tetap ikhlas dalam hidupnya dan mendapatkan hadiah yang lebih baik dari yang hilang, dan semoga hadiah yang hilang itu beralih ditangan yang tepat lagi baik.




Minggu, 08 Desember 2013

30 TAHUN BERLALU

Seorang keturunan Adam yang sejak 30 tahun diperkenankan menginjakkan kakinya di bumi ini sedang memperjuangkan mimpi dan impiannya menjadi suatu kenyataan. Tidak semudah yang dibayangkan pada saat sekolah dahulu, bahwa keinginannya menjadi seorang usahawan atau orang sekarang sering mengatakan enterpreuner adalah sesuatu yang mudah untuk diilakukan. Namun ketertarikannya menjadi orang yang bisa menghasilkan uang melalui jual beli sudah terlihat semasa kecil, diceritakan bahwa dia sering kali menjual hasil permainan (gelang karet, kelereng, kartu gambar, dakocan dll) kepada teman sepermainannya, walaupun sekarang ini baru disadarinya bahwa permainan itu seperti layaknya judi, tapi itulah masa kecil yag belum mempertimbangkan halhal seperti itu.
Setelah beranjak remaja dan dewasa, semakin disadarinya bahwa menjadi usahawan adalah sebuah keniscayaan baginya karena dia berfikir dan mendapatkan sebuah perkataan yang menarik "sebaik-baik manusia adah yang bermanfaat bagi yang lain", dia mengartikan, ketika menjadi seorang pengusaha, berapa banyak orang yang bisa bekerja, berapa banyak keluarga yang bisa dihidupi dari mereka bekerja di perusahaannya. Mulailah saat itu dia berfikir bagaimana dia belajar untuk berjualan. Bahka pada saat kuliah dia tidak malu untuk berjualan keripik singkong yang diambilnya dari ibu kosnya sendiri dan menjualnya serta dibawanya sendiri ke kantin kampus tempat dia kuliah. Disamping itu dia pun sangat bangga dengan kota kelahirannya terlihat diapun berjualan kecap bahkan terasi Juwana kebanggaannya ke swalayan di dekat kampusnya yang saat ini dilihatnya swalayan itu sudah bangkrut, sayang sekali.
Kehidupan kampus sebagai mahasiswapun akan selesai ia lalui, dan keinginan menjadi pengusahapun masih dia pegang, diapun berfikir untuk mendapatkan uang yang besar setelah lulus kuliah nanti apakah dengan bekerja dulu ikut orang, tidak masalah baginya, yang penting bisa menabung untuk mendirikan usaha sendiri. Akhirnya kesempatan itupun ada, sebuah program pemagangan ke Jepang dia ikuti dan dia lulus berbagai tes yang telah dia lalui, dia berfikir inilah kesempatan untuk mendapatkan uang sebagai modal usaha nantinya. Diapun sampai dan menginjakkan di negeri sakura yang dia impikan. Di sana bersama 36 orang teman seangkatan mereka shock dan kaget karena sebuah negara maju yang mempunyai kedisiplinan sangat tinggi bahkan boleh dibilang zero toleransi pada saat bekerja, namun berkat kebersamaan merekapun bisa melaluinya saling memotivasi dan support. Bagaimanapun itu semua dilakukan di negeri orang tidak sebebas di negeri sendiri, hal itu dijadikan sebagai "kawah condrodimuko" tempat untuk mengambil banyak pelajaran selain Yen yang didapattkan. Ketabahan, kesabaran, bahkan keimanan disini diuji.
Walaupun negara ini negara maju namun sebuah budaya saling menghormati, ucapan terimakasih masih terjaga walaupun cenderung tertutup, namun apabila mau untuk mengenal merekapun bisa lebih terbuka. Di Jepang mayoritas beragama shinto, budha, kristen, walaupun demikian karena sifat tertutupnya menanyakan agama yang dipeluknya merupakan sesutu yang tabu. Dengan berbagai tantangan, teman-teman disana bisa membangun sebuah komunitas muslim yang mereka namakan KMIK (Keluarga Muslim Indonesia di Kosai) yang kegiatannya adalah kajian islami bahkan kegiatan-kegiatan lainnya.
Bersama teman-temannya dalam komunitas ini diapun ditunjuk sebagai ketua, walaupun dia merasa berat, tapi bagaimanapun itulah hidup bermasyarakat yang harus ada amanah disana.
(Bersambung)

Selasa, 05 Februari 2013

Belajar di Jepang: Inspirasi Manajemen Sampah Rumah Tangga

Belajar di Jepang: Inspirasi Manajemen Sampah Rumah Tangga
Oleh: Rina Fitriana (Lulusan S2 dari Universitas Yamagata)
Sungguh anugerah yang luar biasa dari Sang Maha Pencipta bahwa saya dapat mencicipi hampir 3 tahun menuntut ilmu di Jepang. Bagi saya, menuntut ilmu di luar negeri bukan saja hanya karena ingin melanjutkan pendidikan ke strata yang lebih tinggi. Lebih daripada itu, saya ingin mempelajari masyarakatnya sehingga negara itu dapat maju. Berdasarkan pengalaman saya selama belajar di Jepang, ternyata kemajuan suatu bangsa bukan saja berakar pada pemerintahan yang berwibawa serta amanah, melainkan ditunjang pula oleh kesadaran masyarakatnya yang kuat akan bagaimana caranya menjadi warga yang baik. Sepintas mungkin kalimat pembuka saya bersifat normatif. Akan tetapi, itulah kenyataan yang saya lihat di sana. Segala sesuatu yang dilakukan oleh masyarakat Jepang selalu didasari oleh norma yang bermakna.
Salah satu contoh rutinitas selama di Jepang yang menurut saya sangat inspiratif adalah manajemen sampah rumah tangga. Mungkin kita yang berada di Indonesia kadang-kadang terlupakan akan hal ini dan bagaimana dampak yang dapat ditimbulkan di lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Akan tetapi, saya percaya bahwa perubahan di lingkungan rumahlah yang nantinya dapat menjadi penentu kesadaran bermasyarakat yang bermartabat.
Di Jepang, ketika saya mulai menjalani training bahasa Jepang untuk kurun waktu 7 bulan di Osaka, saya mulai mengenal manajemen sampah. Bahkan sebelum saya tiba di sana, penjelasan mengenai hal tersebut sudah tertulis secara detail yang dikirimkan bersama dengan dokumen lainnya oleh Japan Foundation sebagai pihak sponsor. Pada keterangan di salah satu berkas dituliskan tentang bagaimana seharusnya para trainee ikut serta mengelola sampah di asrama dengan memilah jenis sampah dan memasukkannya pada tong sampah yang tepat. Kesan pertama ketika saya membacanya adalah, “Wah, sungguh begitu teraturnya warga di sana”. Saya sungguh tidak sabar lagi untuk dapat segera tiba di sana dan benar-benar merasakan kehidupan di Jepang secara nyata.
Saya akhirnya tiba di sebuah tempat yang jaraknya tidak jauh dari stasiun Rinku Town, yang merupakan stasiun kereta pemberhentian pertama dari bandara internasional Kansai. Tempat tersebut dinamakan Kansai Japanese Language Center, di mana nanti saya akan menempati asrama yang kamar-kamarnya menghadap Marble Beach. Pantai tersebut merupakan hasil reklamasi yang lokasinya berseberangan dengan bandara internasional Kansai. Saya pun akhirnya diajak berkeliling tempat tersebut, termasuk diperkenalkan dengan manajemen sampah yang berlaku di Osaka dan harus ditaati oleh seluruh warga.
Di sinilah saya bena-benar merasa begitu “malu” pada diri sendiri sambil membayangkan realitas manajemen sampah di Indonesia yang masih belum sterkelola dengan baik. Dalam hati saya pun bergumam, “Seharusnya kita juga bisa seperti mereka yang selalu memelihara lingkungan tetap bersih, nyaman, dan indah dipandang mata”. Saya juga berpikir bahwa masyarakat Indonesia juga mampu untuk dapat menjadi pribadi-pribadi yang teratur dalam segala segi, terlepas dari tingkat pendidikan di masyarakat kita yang beragam. Nyatanya, di Jepang sendiri juga tingkat pendidikan masyarakatnya juga tidak sama. Akan tetapi, mereka dapat memegang konsensus yang sama dalam penataan lingkungan.
Saya merasa begitu beruntung karena ketika di Osaka, saya berkesempatan untuk study tour mengunjungi Maishima Incineration. Tempat ini merupakan sebuah pabrik khusus pengolahan sampah baik organik maupun anorganik. Bersama rekan trainee lainnya, kami dijelaskan tentang tahapan-tahapan pengolahan sampah dengan menggunakan mesin-mesin besar yang canggih. Bangunannya memiliki desain yang sangat unik, tidak seperti bangunan-bangunan di Jepang pada umumnya. Bahkan, menyerupai istana di negeri dongeng. Kami diperlihatkan berbagai cara pengolahan sampah sesuai dengan karakteristiknya. Di sana, ada juga berbagai alat peraga edukatif yang sangat cocok untuk digunakan sebagai media pemahaman bagi anak-anak dalam mengenali berbagai jenis sampah dan pentingnya upaya pemisahan sampah. “Sungguh tempat yang luar biasa, andai saja Indonesia memiliki tempat seperti ini”, pikir saya.
Setelah saya menyelesaikan training bahasa Jepang 7 bulan di Osaka, sebulan kemudian saya mulai masuk program master di Universitas Yamagata. Sesampainya saya di kota Tsuruoka di mana fakultas pertanian tempat saya kuliah berada, saya pun disambut oleh sensei pembimbing dan istrinya. Mereka mengantarkan saya langsung ke apartemen yang sudah beliau pilihkan sesuai dengan budget pribadi saya. Hari itulah saya mendapatkan penjelasan langsung dari pihak pemilik apartemen tentang seluk-beluk apartemen, seperti keadaan ruangan dapur, kamar tidur, kamar mandi, dan termasuk manajemen sampah yang berlaku di Perfektur Yamagata. Saya diberinya selembar kertas besar mirip kalender dan isinya ternyata jadwal pengambilan jenis sampah tertentu pada setiap harinya. Ketika itulah saya menyadari bahwa ternyata pengklasifikasian sampah yang diberlakukan di Yamagata berbeda dengan Osaka.
Seiring berjalannya waktu saya pun mulai terbiasa dengan kehidupan di Jepang. Saya mulai banyak ngobrol tentang hal lain selain masalah riset dengan partner riset saya di laboratorium. Kami pun akhirnya pernah membahas tentang manajemen sampah di Jepang. Dari isi pembicaraan itu pun, saya jadi tahu bahwa setiap perfektur memang memiliki ketentuan yang berbeda dalam hal pemisahan sampah yang dihasilkan di masyarakat. Di Osaka sampah dibagi menjadi tiga golongan, sementara di Yamagata sampah dibagi menjadi lima golongan.
Di Osaka, sampah terbagi atas golongan sampah yang dapat dibakar (moeru gomi: bahasa Jepang atau combustible trash: bahasa Inggris), sampah yang tidak dapat/mudah dibakar (moenai gomi: bahasa Jepang atau non-combustible trash: bahasa Inggris), dan sampah botol minuman yang terbuat dari PET (PET bottle). Berbeda halnya dengan yang ada di Yamagata, di mana sampah dibagi menjadi sampah organik (seperti kertas, sisa-sisa makanan), sampah plastik (seperti kemasan makanan, detergen, dan bahan isi ulang), sampah berbahan logam/kaca/baterai, sampah bahan elektronik/alat listrik, dan sampah botol PET. Walaupun saya bukan warga asli Jepang, informasi yang diberikan telah memudahkan saya untuk mengerti bagaimana cara mengklasifikasikan sampah secara benar sesuai peraturan. Seperti di Yamagata, jadwal pembuangan sampah yang dibuat seperti kalender itu memuat pula deskripsi/contoh-contoh sampah yang termasuk ke dalam golongan tertentu. Dengan demikian jika saya ada keraguan dalam mengenal jenis sampah, saya tinggal membaca deskripsinya saja.
Untuk membedakan antara golongan sampah yang satu dengan yang lain, kantung sampah dengan warna tertentu juga disediakan. Kantung-kantung sampah yang terbuat dari plastic ini dapat ditemukan di supermarket. Di Yamagata, sampah organik harus dimasukkan dalam ke kantung sampah warna coklat, sampah plastik ke kantung warna pink, sampah bahan logam/kaca/baterai ke kantung warna biru, sampah bahan elektronik/alat listrik ke kantung warna hijau, sementara untuk sampah botol PET harus dimasukkan ke kantung kantung warna kuning.
Jadi di apartemen, saya harus selalu menyediakan kelima jenis kantung sampah plastik tersebut. Ketika sudah penuh, saya tinggal menaruh kantung tersebut di bak penampungan sampah yang berada di depan kompleks apartemen, tentunya disesuaikan dengan jadwal yang berlaku. Misalnya, untuk kantung sampah warna coklat akan diambil oleh petugas kebersihan dari penampungan setiap hari Senin dan Kamis, sementara untuk kantung sampah pink dan kuning akan diambil setiap hari Jumat. Nah, petugas pun akan mengambil warna kantung sampah yang sesuai dengan jadwal yang telah ada. Misalkan kita menaruh kantung sampah warna pink di hari Senin, maka hari itu petugas tidak akan mengambilnya dan akan membiarkannya tergeletak di bak penampungan menunggu hingga hari Jumat.
Menurut saya, manajemen sampah seperti ini dapat mulai kita tiru setidaknya untuk di lingkungan rumah. Sekembalinya saya ke Indonesia, saya telah memulai membagi sampah menjadi dua golongan, yakni sampah organik/yang tidak dapat didaur ulang dan sampah yang dapat didaur ulang (seperti kertas, kardus, plastik, berbagai jenis kemasan makanan/bahan pakai/bahan isi ulang, dan berbagai jenis botol).
Mungkin memang di Indonesia belum ada tempat yang memfasilitasi secara khusus pengolahan sampah secara terpisah berdasarkan karakteristik masing-masing. Berbeda dengan Jepang, di Indonesia justru sampah-sampah daur ulang ini menjadi sumber pendapatan bagi banyak pemulung. Oleh sebab itu, dengan konsistensi akan manajemen sampah yang bijaksana, selain berpartisipasi dalam mengurangi volume sampah di TPA kita juga dapat berperan aktif untuk membantu pemulung dalam usahanya mengumpulkan sampah daur ulang. Keuntungan lain juga, bak sampah di depan rumah menjadi lebih tertata dan tidak cepat penuh dengan sampah. Dengan kita memberikan secara langsung kepada pemulung sampah-sampah daur ulang yang telah dipisahkan itu, kebersihan bak sampah menjadi lebih terjaga dan tidak banyak lalat yang beterbangan akibat sampah yang berserakan.
Kontribusi kita sebagai masyarakat kepada negara tidaklah mustahil untuk kita mulai dari ruang lingkup yang kecil, seperti lingkungan rumah. Banyak hal yang dapat kita mulai dari rumah. Selain berguna untuk proses mendidik anak tentang bagaimana cara mengelola sampah yang baik, dengan manajemen sampah rumah tangga yang ekologis dan humanis, kita sendiri dapat menikmati lingkungan rumah yang bersih dan tertib.

Sumber: http://acikita.org/docs/2012/03/15/belajar-di-jepang-inspirasi-manajemen-sampah-rumah-tangga/

Kamis, 07 Januari 2010

Berharap Berkah dari Medel (Legenda Sigit Bakaran Wetan-Juwana)

Oleh: Pincuk Suroto

Legenda ini bermula dari runtuhnya Kerajaan Majapahit oleh Demak. Kini petilasan itu membawa berkah, dengan batik sebagai basisnya.

Sehabis Maghrib, Kamis Kliwon atau malam Jumat Legi, salah satu kawasan di Jl. Mangkudipuro, Desa Bakaran Wetan, Kecamatan Yuwono, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, terlihat semarak. Apakah karena waktu itu, 24 September, masih kental aroma lebaran, atau adakah sebuah hajatan yang mewajibkan para warga mengalir menuju suatu tempat?
Ternyata, tempat yang terlihat sibuk lalu lalang itu adalah Balai Desa Bakaran Wetan. Namun, setelah lebih mendekat, bukan balai desa yang dituju para rombongan keluarga itu, melainkan suatu bangunan mirip masjid namun tak memiliki mighrab. Bangunan itu memang letaknya berdekatan dengan balai desa, berjarak hanya sekitar 3 meter. Di samping bangunan tadi berdiri kokoh pohon beringin yang dikelilingi pagar tembok setinggi satu meter. Di pagar itu, telah berkumpul belasan warga, terutama laki-laki, duduk santai mengelilingi pohon beringin.
Di belakang pohon beringin terdapat bangunan pendopo yang tengah disapu oleh seorang lelaki. Di luar pendopo, sebaris teras dipenuhi oleh kumpulan ibu-ibu dan anak-anak yang kebanyakan tengah membawa plastik kresek berwarna hitam. Rasa penasaran kian mendekat, tapi hawa aneh segera menerpa tengkuk: bau wangi kembang setaman membawa wingit, bertambah merinding saat tajam bau kemenyan mengepul dari satu ruang sempit di depan pendopo.
Perasaan takut tapi penasaran saling tarik. Langkah kaki kian mendekat, tapi buru-buru ingin menjauh karena keingintahuan dan takut bergulat saling tindih. Akhirnya sebuah tempat yang “aman” adalah dengan mendekati bapak-bapak yang sedang nongkrong di seputar pohon beringin. Lelaki paruh baya berkaos putih “Swan” tersenyum ketika dihampiri. “Saking pundi mas (dari mana, mas),” tanyanya. Lelaki berambut keperakan yang tak mau menyebut nama ini rupanya tahu bahwa tamu di hadapannya adalah bukan penduduk Bakaran. Ia pun melanjutkan tanya untuk keperluan apa mengunjungi tempat keramat ini. Itulah tempat pemakaman (punden) Nyi Ageng Danowati atau Siti Sabirah, yang oleh masyarakat setempat dipercaya sebagai tokoh yang dulunya menjadi pengayom masyarakat sehingga dihormati dan disegani.

Melarikan Diri
Menurut Bukhari (58), tetua desa Bakaran, tempat itu merupakan rumah tinggal Nyi Danowati. Legenda ini bermula dari runtuhnya kerajaan Majapahit karena kalah perang dengan Demak. Para pengikut melarikan diri termasuk Ki Bicak, Nyai Bicak, Nyi Danowati (Murni Sabirah), Joko Suyono, Ki Dhukut, dan Ki Joyo Truno.
Rombongan itu menyamar sebagai rakyat biasa dan berjalan menuju tempat Ki Ageng Sela di Purwodadi untuk mencari perlindungan politik. Setelah bertemu dengan Ki Ageng Sela, rombongan tidak bisa ditampung karena tidak ada jaminan keselamatan bahwa di wilayah itu aman bagi mereka. Akhirnya rombongan melanjutkan perjalanan dan berpencar menjadi beberapa bagian. Rombongan Ki Dhukut dan Adiknya Sabirah beserta Joko Suyono berjalan ke utara. Sabirah akhirnya menemukan tempat peristirahatan (mekuwon) dan akhirnya tempat itu dinamakan Pekuwon.
Ki Dhukut melanjutkan perjalanan dan menemukan tempat yang dipenuhi tanaman Druju (Druju sing ana), sehingga tempat itu dinamakan Druju Ana atau Juana. Suatu ketika sang adik menyusul Ki Dhukut, dan merasa tempat tersebut lebih baik Sabirah akhirnya ikut kakaknya dan mulai babat alas bersama. Merasa hasilnya sedikit karena perempuan, maka Sabirah meminta kakaknya untuk mencari kayu bakar dan ia akan membakarnya. Lantas abu hasil bakaran tersebut yang terkena angin mengenai daerah menjadi batas wilayah milik Sabirah. Lantas daerah tersebut disebut Bakaran.
Desa Bakaran kian ramai. Sabirah mendirikan bangunan mirip Langgar (mushala) dan membuat sumur biar dikira sebagai tempat berwudlu. Akhirnya Joko Suyono datang dan bermaksud melamar Sabirah, namun Sabirah memberikan sarat agar Joko membuat sumur sejumlah tujuh dalam waktu semalam. Karena merasa sakti, Joko menyanggupi. Tetapi, sampai batas waktu, ia hanya sanggup membuat enam, dan Joko mengaku tujuh dengan sumur yang sudah ada. Untuk membuktikannya, Sabirah meminta Joko meminum air sumur. Kalau bohong, Joko akan mati. Akhirnya Joko setuju. Karena terbukti berbohong, Joko pun meninggal. “Sampai sekarang sumur itu disebut sumur sumpah. Dan, karena sering dijadikan untuk bersumpah dan banyak menelan korban, akhirnya beberapa tahun lalu oleh pemerintah kabupaten sumur itu di tutup,” cerita Bukhari.
Di desa itu, Sabirah, yang kemudian dikenal sebagai Nyi Ageng Bakaran, bersama masyarakat Bakaran hidup dengan medel (membatik) dan jualan nasi. Motif batik itu berasal dari Majapahit yang kemudian dikembangan di desa Bakaran. Nama-namanya hampir sama dengan batik Solo atau Jogja namun bentuk motifnya tidak begitu jelas. Misalnya motif binatang atau tanaman tidak sejelas atau sebagus dari motif Solo atau Jogja. “Ciptaan Sabirah di desa bakaran adalah motif Gandrung. Motif ini adalah kisah cinta Joko Suyono terhadap Sabirah,” terang Bukhari yang merupakan keturunan ke-5 pengusaha batik Bakaran yang masih eksis hingga kini.

Berkah
Dari sinilah batik Bakaran berkembang hingga sekarang. Terdapat 24 motif klasik batik Bakaran, dan sekarang sudah jarang dibuat karena kerumitan dan pekerjaan membuat satu kain membutuhkan waktu hingga satu bulan lebih. Menurut Bukhari, pemilik batik tulis Cokro ini, bahwa ia akan membuat batik tulis klasik hanya karena pesanan saja. Selain proses pembuatan memakan waktu lama batik motif klasik ini jarang peminat. Berbeda dengan motif baru, yang lebih dinamis dan ngejreng peminatnya banyak.
Penghormatan terhadap Nyi Ageng Bakaran hingga kini masih dilakukan, setiap tahun dilakukan upacara bersih desa dengan menanggap wayang kulit semalam suntuk. Dan, yang lebih unik lagi bahwa setiap malam Jumat, masyarakat Bakaran ngalap berkah dengan cara berdoa di dekat sumur sumpah, yang telah ditutup, dengan bunga setaman dan membakar kemenyan. Hal itu bergiliran, seperti yang tampak pada malam lebaran itu. Warga hilir mudik hingga diri hari.
Doa yang disampaikan lewat juru kunci itu dipercaya akan memberikan berkah sesuai dengan permintaan. Setelah berdoa, biasanya warga lek-lekan (tidak tidur semalam suntuk) di sekitar punden Nyi Ageng Bakaran. Di sekitar jalanan pun semakin ramai, lampu thinthir (lampu bersumbu dengan bahan bakar minyak tanah) kian berkibar tertiup udara pagi, namun transaksi penjual bunga di pinggir jalan itu semakin ramai.
Mereka berbondong sekeluarga, suami, istri dan semua anak-anaknya diajak untuk tetirah, berharap berkah di bulan syawal. “Di sini semakin larut semakin ramai, apalagi warga tidak tidur semalam suntuk tanpa hiburan apapun,” tambah warga yang masih nongkrong di dekat pohon beringin tersebut.

Sumber:http://www.gong.tikar.or.id/?mn=panggung&kd=100
Disini kami hanya ingin menginformasikan kepada sobat Silugonggo Juwono agar lebih mengetahui tentang sebuah legenda, tidak lebih dari itu apalagi menginspirasi sobat semua untuk ngalap berkah disana. Semoga kita bisa mengambil semua sisi baik dan juga pelajaran serta mengetahui sebelum melakukan. Semoga Gusti Alloh memberikan hidayah kepada kita.

Jumat, 25 September 2009

FACE BOOK Akankah Bertahan Lama?



Dalam beberapa bulan terakhir ini, Facebook benar-benar telah mengambil hidup jutaan orang, termasuk di Indonesia. Dan mungkin, bisa jadi termasuk kita sendiri.

Sebabnya, di Facebook, para penggunanya bisa berinteraksi dengan banyak orang, teman-teman baru ataupun teman-teman lama. Di Facebook, kita bisa bermain game internet gratis, juga bisa menampilkan foto-foto kita, dan tidak seperti halnya di blog atau situs, foto-foto tersebut dijamin langsung bisa dilihat oleh friend list yang bersangkutan. Bahkan dikomentari. Di Facebook pula ada fasilitas chatting, dan meng-up-date status—sampai-sampai ke kamar mandi dan segala hal tak penting lainnya pun (atau yang lebih parah, hal sangat pribadi!) diberitahukan kepada khalayak. Dan mendapatkan tanggapan dari beberapa orang. Itulah kelebihan Facebook yang tak didapati di situs-situs jejaring sosial lainnya.

Tidak heran kemudian, jika hampir semua pengguna internet menjadi ketagihan akan Facebook. Apalagi sekarang internet (dan juga Facebook terutama) bisa langsung diakses dari HP yang murah-meriah dengan biaya yang sangat murah pula. Artinya, up-date status bisa terjadi dimana dan kapan saja.

Namun, apakah Facebook akan bertahan lama?

Lama-kelamaan, orang akan semakin sadar bahwa Facebook telah menciptakan sebuah komunitas yang benar-benar maya. Memang betul Facebook juga mempunyai sisi positifnya, seperti menjalin tali silaturahmi dengan orang lain.

Satu-satunya hal yang akan membuat Facebook ditinggalkan adalah kebosanan yang melanda para penggunanya. Setelah mondar-mandir selama tiga atau empat bulan di Facebook, orang akan dengan segera menemukan kejenuhan, karena semuanya hanya berlangsung begitu-begitu saja, dan semuanya selesai.

Hanya saja, para pengguna internet yang baru pun akan terus bermunculan, terutama kalangan ABG. Dan memang, bagi mereka yang masih berusia di periode ini, Facebook benar-benar mewakili kebutuhan mereka akan ajang unjuk diri. Dan mungkin bagi mereka, menghentikan Facebook menjadi sesuatu yang sulit, dan hanya bisa terjadi ketika sudah mulai beranjak dewasa dan atau tua. Jika Anda seorang dewasa, dan begitu kecanduan akan Facebook--salah satu ciri kecanduan Facebook adalah up-date status begitu sering hanya dalam beberapa waktu puluh menit--mungkin sudah waktunya untuk berhenti sejenak.

Sekarang, mari kita tanyakan kepada kita diri pribadi: apakah selama ini Facebook benar-benar kita gunakan untuk kebaikan atau hanya untuk sekadar up-date status tak penting, curhat dan rame-ramean doang? (sa)

sumber: http://www.eramuslim.com/berita/nasional/akankah-facebook-bertahan-lama.htm

Jumat, 17 Juli 2009

Tindakan Bukan Segalanya untuk Sukses

Tindakan memang penting untuk meraih sukses, tetapi bukan segalanya. Tindakan juga bukan berarti bisa bisa menghapus kekuatan do’a, niat, mimpi, penetapan tujuan, dan rencana. Tindakan adalah mata rantai untuk meraih sukses, namun bukan segalanya atau faktor satu-satunya meraih sukses.

Banyak orang yang terus bertindak, namun sampai akhir hayat tidak mendapatkan apa yang dia inginkan. Banyak orang yang bekerja keras dari subuh sampai malam, namun kehidupannya tidak pernah beranjak. Sementara ada orang yang tindakannya biasa-biasa saja, tetapi dia mendapatkan jauh lebih baik dibanding orang yang bekerja keras.

Sampai muncul sebuah kesimpulan bahwa yang diperlukan adalah bukan kerja keras tetapi kerja cerdas untuk meraih sukses. Tapi, menurut saya, jika Anda ingin sukses Anda perlu bekerja keras dan cerdas. Tidak cukup salah satu saja, harus keduanya keras dan cerdas.

Namun, sekali lagi, kerja atau tindakan bukan segalanya dan bukan satu-satunya faktor untuk meraih sukses. Tindakan adalah mata rantai penting dalam meraih sukses. Artinya masih ada mata rantai yang lain yang diperlukan untuk meraih sukses selain tindakan.

Antara Bermimpi dan Bertindak

Sekarang, sedang ada sebuah kampanye Stop Dreaming Start Action. Saya sangat mendukung program ini. Saya setuju untuk bagian “Start Action”, namun saya tidak setuju untuk mengatakan Stop Dreaming. Karena menurut saya, tindakan luar biasa dan tindakan dahsyat akan muncul jika kita memiliki impian yang besar.

Jika sebuah mimpi tidak menghasilkan tindakan, artinya ada masalah dengan mimpi tersebut. Bukan berarti harus berhenti bermimpi, perbaikilah cara bermimpinya. Karena jika seseorang memang benar-benar menginginkan sesuatu, dia pasti bertindak untuk mengejar impiannya.

Jadi, tetaplah bermimpi sebab mimpi akan menjadikan Anda bertindak.

Antara Berdo’a dan Bertindak

Sebuah ungkapan yang sering kita dengar antara berdo’a dan tindakan ialah, “Jangan hanya berdo’a saja kita tetap harus bertindak.”

Ungkapan itu adalah benar dan tidak salah. Hanya saja, kita perlu melihat lebih jeli. Kalimat tersebut bisa mengandung arti bahwa antara do’a dan tindakan adalah sesatu yang berbeda. Seolah berdo’a akan percuma jika tanpa tindakan. Ini yang salah. (Saya tahu, orang yang mengatakan kalimat diatas tidak bermaksud seperti ini.)

Mereka akan mengatakan keduanya perlu. Namun saya mengatakan berdo’alah yang diperlukan untuk meraih sukses. Lalu bagaimana dengan tindakan? Jika kita benar-benar berdo’a dan yakin dengan do’a kita maka Allah akan mengabulkan keinginan kita dengan berbagai cara yang tidak terbatas sebab Allah Mahakuasa.

Tindakan hanyalah salah satu cara Allah mengabulkan do’a kita. Allah akan memberikan inspirasi, ide, gagasan, dan kekuatan untuk bertindak jika tindakan adalah jalan untuk meraih apa yang kita minta dari Allah. Namun, jangan sampai kita mengatakan bahwa tindakan adalah satu-satunya cara terkabulnya do’a.

Jadi berdo’alah dengan yakin. Tindakan akan mengikuti jika diperlukan.

Hati manusia adalah kandungan rahasia dan sebagian lebih mampu merahasiakan dari yang lain. Bila kamu mohon sesuatu kepada Allah ‘Azza wajalla maka mohonlah dengan penuh keyakinan bahwa do’amu akan terkabul. Allah tidak akan mengabulkan do’a orang yang hatinya lalai dan lengah. (HR. Ahmad)

Sumber:www.motivasi-islam.com

Minggu, 28 Juni 2009

Berbobot dalam Berfikir

Sangat luar biasa memang bagaimana anak-anak Jepang berfikir, mereka mempunyai pola berfikir yang cerdas. Apakah ini memang bawaan dari lahir ataukah karena diasah. Hal ini saya lihat langsung ketika saya dan dua orang temen yang juga sama-sama berkebangsaan Indonesia, sedang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti sebuah pelatihan (benkyoukai) pada Sabtu, 6 Juni 2009. Kami didampingi pula orang Jepang pegawai Kadin setempat.

Pelatihan yang sangat sederhana tetapi sangat hidup dan atraktif. Hanya berdurasi sekitar satu seengah jam, dimulai jam 10.00 dan berakhir jam 11.30. Pelatihan ini dikususkan pada bagaimana cara pembudidayaan belut (unagi). Disebuah tempat yang lagi-lagi boleh saya sebut simpel sederhana, tetapi syarat dengan ilmu, saya hanya bisa bergumam dalam hati "luar biasa, kapan negara saya Indonesia bisa memiliki bangunan yang sangat bermanfaat seperti ini". Kegiatan ini diikuti oleh seitar 20 peserta.

Pertama datang kami dikumpulkan dan diberi pengarahan/briefing dari pemandu samapai sedetil-detilnya, itulah salah satu kebiasaan orang Jepang yang dengan detail akan menjelaskan segala sesuatunya. Setelah kurang lebih 10 menit kamipun langsung diajak ke tempat pembudidayaan belut. Disana kami bertemu lagi dengan pemandu yang khusus akan menerangkan tentang pembudidayaan belut. Pertama kami diajari bagaimana membuat pakan belut, apa bahan-bahan yang digunakan, berapa ukuran masing-masing bahan, formulanya, bahkan untuk cara menimbang dan menakar masing-masing bahanpun dipraktikkan setiap peserta, lagi-lagi saya takjub betapa detailnya mereka mnjelaskan dan mengajarkan. Setelah itu kamipun diajarkan untuk membuat adonannya dengan tangan, walaupun disana ada alat pembuat adonannya. Agak bau sih....tapi nggak apa-apa gumamku.

Nah ini lah saatnya kami ditunjukkan ke bagian tempat pembudidayaan belut. Pakan belut hasil karya kami dimasukkan ke dalam bak pembudidayaan, sehingga luar biasa didalamnya terdapat belut yang bagi saya itu belut yang besar-besar yang jarang saya melihatnya di Indonesia. Disinilah bedanya, kalau belut Indonesia media pembudidayaannya di lumpur yang terlihat kotor, tapi kalau di Jepang dipelihara di air yang dikasih airator. Bahkan belutpun tidak suka kotor ya.. gumamku tidak seperti belut Indonesia, apakah menggambarkan orangnya, tentu tidak ya...he he.

Disinilah, setelah kami diajak jalan-jalan dan dijelaskan tentang bagaimana belut tumbuh, hingga siap untuk dipanen, tiba saatnya sesi diskusi. Kekaguman yang saya rasakan ketika disana ada seorang anak yang mengikuti kegiatan ini dan bertanya sesuatu, yang luar biasa adalah pertanyaannya yang sangat berbobot sekali, dan ini bukan hanya oleh satu orang anak saja tapi begitu juga oleh anak-anak yang lainnya. Mereka tidak menertawakan ketika temannya bertanya. Hal ini berlawanan dengan beberapa fenomena di negara saya Indonesia, yang malas untuk bertanya, menertawakan teman bertanya, kadangpun pertanyaannya yang kurang berbobot, tapi tidak semua begitu lho.....he he.

Memang ketika saya mengikuti pelatihan di BLK Badan Latihan Kerja Jepang, ada beberapa hal yang saya rasakan berbeda cara pembelajarannya. Dua hal mendasar yang awal-awal sekali diajarkan ketika saya di Jepang adalah bagaimana bekerja dalam kelompok, dan yang kedua yaitu bagaimana melakukan pemecahan masalah problem solvingAda sebuah pepatah Jepang bahwa banyak kepala lbih baik dari satu kepala.