Selasa, 08 November 2016

Cara Menjadi Entrepreuneur Pilihan

Perjalanan bermil-mil jauhnya harus dimulai dengan langkah pertama (Kahlil Gibran). Sebuah kata bijak yang patut untuk direnungkan dalam menggapai segala impian yang telah dirancang dan diangankan sehingga tidak hanya menjadi mimpi yang akan hilang ketika telah bangun dari lelap. Segera mulai melangkah dengan segala daya upaya yang dimiliki merupakan pilihan yang tepat. 

Salah satu yang perlu untuk melangkah adalah menyiapkan ilmu atas yang akan dilakukan. Thomas A. Edison mengatakan bahwa keberuntungan terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. Kenapa ilmu menjadi sesuatu yang penting sebagai langkah persiapan, seperti yang banyak kita ketahui bahwa ilmu merupakan cahaya untuk menerangi hidup kita dalam segala macam aspek kehidupan, dan dengan ilmu akan naik nilai kita beberapa derajad dari yang lain, sehingga akan menghilangkan kesombongan, takabur, merasa paling benar, paling besar dan sifat-sifat negatif lainnya.

Tidak terlepas juga dalam melakukan usaha atau istilah kerennya enterpreunership perlu selalu menambah dan mengumpulkan ilmu, karena kegiatan ini sangat dinamis, apalagi dengan kemajuan tekhnologi yang pesat sekarang ini. Tidak bermaksud menggurui namun hanya sekedar memforward apa yang didapatkan dari hasil berkomunitas beberapa waktu yang lalu.

Setidaknya ada enam tahapan klasifikasi entrepreuneur menurut omset yang didapat per tahun.
1. Learning Stage
Tahapan ini adalah setara dengan "murid" yang masih dalam persiapan belajar dalam memulai usahanya, dimana omset yang dihasilkan masih kurang dari 1 Milyar
2. Seed Stage
Pada tahap ini pelaku usaha sudah mulai sebagai "penjelajah" yang melakukan berbagai pilihan pilihan baik jenis usahanya maupun cara usahanya, sama dengan learning stage omset yang dihasilkan masih kurang dari 1 milyar per tahunnya
3. Startup Stage
Stage ini merupakan tahap "petarung" dimana pelaku usaha sudah melakukan try and error atas uasaha dan sudah memiliki kompetisi yang sangat keras, disini omset yang dihasilkan antara 1- 10 milyar per tahun
4. Growing Stage
Tahapan ini pengusaha sudah dikategorikan sebagai "pengusaha pro" dengan berbagai pengalaman yang dimilikinya serta jatuh bangunnya. Omset yang dihasilkan antara 10 - 50 milyar per tahun
5. Strategy Stage
Ibarat "jenderal perang" usaha yang sudah dimiliki sudah mampu mengendalikan market, sehingga bisa memainkan strategi untuk memainkan pasar. Omset yang dimiliki berkisar antara 50 - 100 milyar per tahun
6. Exit Stage
Disebut juga sebagai "mindset investor pro" merupakan tahapan tertinggi jika dilihat dari omset yang dihasilkan, yaitu diatas 100 milyar.
Dari keenam stage diatas maka posisi kita ada dimanakah, ini dimaksudkan agar ternyata kita masih sangat sangat kecil kelasnya. Sehingga diharapkan ada sebuah awareness untuk senantiasa melakukan inovasi dan peningkatan, serta yang penting adalah tetap merasa humble dan mawas diri, tidak 'kagetan' 'ojo dumeh' karena ternyata posisi kita masih sangat kecil dalam tataran pengusaha.

Sudah selayaknyalah kita mulai memikirkan usaha yang sudah digeluti sekarang ini menjadi bisnis yang besar yang sudah bisa berjalan sendiri tanpa kita harus disibukkan didalamnya namun tetap aman dan berjalan sesuai yang kita inginkan. Sehingga diperlukan sebuah system otomatis, ibarat sebuah pesawat terbang ada yang namanya auto-pilot sytem yang mana pesawat bisa terbang sendiri di angkasa tanpa sang pilot standby duduk di kursi pilotnya.
Setidaknya ada tiga langkah untuk membuat "Auto-Pilot Business"
1. Create a comprehensive system
Sistem harus bisa dikerjakan oleh semua orang, sehingga sistem tidak ada ketergantungan dengan satu orang tertentu. Misalnya ketika seorang karyawan di bagian tertentu tidak masuk kerja atau resign maka sistem masih tetap bisa bekerja oleh orang pengganti,
2. Find perfect people
Menemukan orang yang akan menjalankan sistem ini pada posisi yang tepat dan waktu yang tepat pula atau boleh dibilang right man in right place, sesuai dengan kemampuan da kompetensi yang dimiliki
3. Build a strong corporate culture
Membangan sebuah budaya perusahaan yang baik yang mampu memberikan suasana yang kondusif untuk bekerja sehingga memberikan kepuasan terhadap pelanggan dengan optimal.

Dalam sebuah usaha tentu perlu apa yang namanya brand, seberapa pentingkah brand yang berkelas dunia ini dalam berjalannya bisnis.
- Brand adalah denyut nadi bisnis (jantung)
- Mengakselerasi bisnis secara maksimal
- Mensukseskan penetrasi dan gerilya pasar
- Brand bukan hanya berbicara design, garis, warna, vektor, logo, jingle dll
- Segala aspek bisnis melihat brand
   + Calon partner
   + Calon investor
   + Calon konsumen
   + Calon staff
   + Calon kompetitor
Jadi sekarang tahukah apa itu brand, adalah kombinasi lengkap dari asosiasi yang orang bayangkan ketika mendengar sebuah nama perusahaan atau produk. Ibaratnya, brand bagi sebuah perusahaan adalah reputasi bagi seseorang.

Bagaimana caranya untuk melakukan branding, berikut adalah tahapan dan caranya.
Market
- Target Market, siapakah market yg akan dibidik, sehingga perlu analisa (demographic, psychological, dll)
- Pemahaman Konsumen, mengetahui apa yg dibutuhkan dan diinginkan dari mereka, apa yg dapat kita beri utk mereka, bagaimana kita menjadi jawaban dan solusi dari permasalahan mereka
- One position, menempatkan diri sebagai satu posisi spesifik di mata konsumen. Cth: apple=gadget, starbucks=kopi, nikon=kamera, motor gede=harleydavidson)
Pesan (Message)
- Kebutuhan masyarakat, mampukah kita memenuhi kebutuhan masyarakat, apakah kita pemain baru, apakah kita kompetitor baru, apakah kita mampu memenangkan pasar
- Keunikan, keunggulan kita dibanding kompetitor (competitive advantage atau keunggulan kompetisi), tidak menjelek-jelekkan kompetitor tapi fokus pada keunggulan bisnis kita. Cth: bmw vs mercy vs audi
- One message, setiap brand kuat harus mampu mengkomunikasikan sesuatu yg positif perihal sang konsumen. Cth: apple=kreatif, kratingdaeng=perkasa, harley=tangguh, starbucks=coffeaddict
Management
- Customer, konsumen kita orang macam apa, kelakuannya gimana, mentalnya, perilaku. Perlu untuk kita ketahui dari market kita agar kita bisa mempersiapkan PEGAWAI
- Pegawai, membuat pegawai siap tempur dan mampu merepresentasikan brand dengan konsumen karena mereka sudah tau siapakah konsumen dan gaya konsumennya
- Coporate Culture, membuat asosiasi (keterikatan emosi) antara pegawai (brand ambasador) dg konsumen dan orang eksternal, kesan apa yg ingin dibuat dari brand kita. Cth: kantor hukum
Numbers (perhitungan profitabilitas) 
- Business Model, kita membantu orang untuk memenuhi keinginan dan kebutuhannya, sesuatu apa yg kita dapatkan dari mereka, kita harus mendapatkan profit karena kita bukan yayasan, dan profit kita sebesar apa
- Budget, untuk mensupport brand kita maka budget kita berapa, minimal menyiapkan budgeting minimal 12 bulan kedepan, sehingga kita bisa menganalisa income untuk menutup pengeluaran itu agar bisnis tidak mati di tengah jalan
- Profit (sangat penting), dari segala yang telah kita kerjakan berapa profit akhir yg kita dapatkan, jika ujungnya hanya untuk balik modal maka STOP bisnis.

Jadi sekarang tahu kan apa itu branding, adalah perasaan yang terhubung di dalam pikiran konsumen terhadap bisnis dan produk anda.

Akhirnya disampaikan 

- salam berkah-
 

Rabu, 14 September 2016

Ekonomi Berbasis Komunitas

Berawal dari pemikiran sebuah komunitas penuntut ilmu, munculah sebuah ide untuk pemberdayaan masyarakat sekitar. Karena dilihat potensi penduduk sekitar yang berprofesi sebagai UKM maupun pengrajin olahan hasil laut. Sehingga perlu segera direalisasikan ide yang cukup menarik tersebut. Bulan Mei 2015 merupakan awal dimana semua komunitas sejenis berkumpul untuk membangun sebuah persepsi yang sama untuk membangun koperasi dalam rangka pemberdayaan masyarakat, sehingga terbentuklah organ, struktur pengurus, pengawas, tentunya juga anggota yang total jumlahnya 25 orang.

Mulailah bergerak untuk mengurus segala bentuk perijinan yang memang diawali dari nol pengetahuan mengenai koperasi ini, namun karena rasa ingin belajar yang cukup tinggi, maka segala bentuk ketidak tahuan pun semakin terkikis. Tidak terasa persiapan berkas, dokumen dan segala persyaratan lainnya satu per satu sudah terpenuhi. Hingga akhirnya Mei 2016 tepat satu tahun ide itu muncul, akhirnya perijinan legalitas pendirian koperasipun didapatkan. Lelah tenaga, pengorbanan waktu, dan curahan pikiran pun terbayarkan dengan keluarnya perijinan tersebut. Dengan nama koperasi serba usaha TUGU MULYO SEJAHTERA.

Tahap perijinan memang sudah teratasi, namun masih ada lagi tantangan berikutnya, yaitu bagaimana mengoperasikan koperasi ini. Lagi lagi berbekal rasa ingin belajar yang memang dimiliki, tidak sungkan untuk bertanya kesana sini, bergabung di komunitas koperasi, bahkan ikut seminar yang sekiranya biayanya tidak mahal, karena memang selain pengetahuan yang sangat sedikit, modal keuanganpun berawal dari nyaris nol, dan kepercayaan.

Setelah sekian lamanya ada sebuah lembaga kemanusiaan yang kebetulan mempunyai program yang mirip dengan misi koperasi yaitu pemberdayaan UKM. Tidak berapa lama komunikasipun terjalin dan kesepakatan untuk pengelolaan dana dan SDM UKM di lingkungan koperasi berada pun didapatkan. Dan sampai sekarang program itu masih berjalan semoga kesuksesan yang berkah untuk para peserta dan juga koperasi.

Untuk mengembangkan potensi yang ada seiring semakin bertambahnya modal dari para anggota koperasi, mulailah unit simpan pinjam mulai dibuat dan setelah dilakukan sosialisasi unit ini pun mulai berjalan dan calon peminjam mulai berdatangan, cukup antusias, namun karena modal yang sangat terbatas, kehati-hatian dan selektifitas sangat diperlukan. Disinilah dinamika mulai kelihatan sehingga berbagai improvisasi mulai tampak. (bersambung)

Minggu, 07 Agustus 2016

Silaturahim Jogja - Boyolali



Perjalanan dimulai selepas subuh, berusaha membiasakan diri tidak tidur  lagi selepas subuh. Melewati gunung dan menuruni lembah, perjalanan melalui jalan bebas hambatan pun dilalui hanya 30 menit dari ujung masuk hingga ujung keluar paling luar. Alhamdulillah lancar karena biasanya kalau weekend sering padat.
Tahap kedua perjalanan dimulai lagi, disini tantangannya lebih gede lagi karena dilintasan ini belum ada jalan bebas hambatan, bukan berarti di jalan bebas tadi tidak perlu kesabaran, namun sedikit berbeda, jika di jalan bebas hambatan kita harus bersabar menahan emosi untuk tidak injak pedal gas terlalu dalam, sedang dijalan biasa musti bersabar untuk memperhatikan kanan kiri depan belakang karena banyak pengguna lain bukan hanya sesama mobil, so musti hati hati ya guys. Perjalanan pun bisa terselesaikan kurang lebih 2,5 jam dengan pemandangan yang menyejukkan, gunung, lembah, hamparan sawah, rawa, sun rise, bahkan pasar tumpah di pagi hari pun banyak dijumpai. Alhamdulillah sampai juga di kota tujuan, kota gudeg kota pelajar kota yang diistimewakan karena warisan budaya dan kultur adat yang unik yang masih kental dengan sistem keraton dan kerajaan.
Kunjungan pertama di daerah jalan kaliurang, ini sebenarnya pertama kali menginjakkan kaki di daerah sini walaupun sudah sangat lama dan sering mendengarnya, sehingga masih perlu nyasar ke jalan perkampungan walau asyik juga melihat perkampungan disana, asri, sejuk, tanaman yang tampak subur hijau, dan viewnya gunung merapi yang menampakkan kegagahannya. Setelah muter-muter dan tanya kesana kemari, ketemu juga alamat yang dicari kompleks perkatoran PT Indmira. Jika dilihat dari luar tampak kecil ruangannya, namun setelah masuk kedalam, disana ada gedung kantor yang lumayan besar serta hamparan kebun dan kolam untuk riset yang lumayan luas, terus lagi ada juga para pengunjung yang sekedar melihat hasil riset kantor ini, cukup menarik.
Ketemuan dengan orang Indmira pun dimulai dan seperti biasa diawali dengan perkenalan dan sedikit basa basi, menjelaskan tentang kedatanganku di kantor ini, tentunya terkait tentang teknologi terapan yg memang kantor ini memang sebuah konsultan lingkungan termasuk juga perikanan. Bahwa akhir-akhir ini sangat sulit melakukan budidaya udang windu di daerah saya lahir, Juwana, kira kira faktor apa yang menjadikan hal ini terjadi. Disana ada 2 orang dan perempuan,  menjelaskan hal yang mungkin bukan kali ini saja mereka mendapatkan pertanyaan yang serupa. Bagaimanakah penjelasannya, tunggu kalau ada waktu lagi ya, saya posting hehe.

Minggu, 15 November 2015

KECERDASAN, KEBERANIAN, HARTA

Hari ini aku luangkan waktu untuk bisa berkumpul dengan para peserta senam yang aku ikuti sejak lima bulan yang lalu. Awalnya aku tidak mengenal perkumpulan ini karena komunitas ini pesertanya adalah para etnis tionghoa yang ada di kota tempat aku tinggal. Waktu itu aku diajak seorang warga di tempat aku bekerja, dimana kebetulan aku bekerja untuk mencari problem solving para warga yang bermasalah dengan air bersihnya di kawasan estate manajemen kami, nah dari situlah aku mulai diajak walau agak berat juga sebenarnya tapi aku fikir ini bagus juga untuk menjaga kesehatan, akhirnya aku ikut juga latihannya walau satu hari seminggu tiap hari Sabtu. Beliau ini warga tionghoa yang sangat baik, suka kasih nasihat baik kesehatan maupun tentang bagaimana mengarungi kehidupan ini. Terlepas dengan dasar agama atau memang dari hasil perjalanan hidup beliau, yang jelas ada sebuah nasihat yang menurut aku bagus untuk direnungkan.
Nasihat ini aku peroleh waktu perjalanan menuju sebuah pelatihan senam yang didatangi langsung oleh guru yang dihadirkan langsung dari China, Mr Liau Tse. Dan para pesertanya kebanyakan adalah para etnis tionghoa yang usianya seusia orangtua ku, dari situlah banyak dari mereka yang memberikan nasihat dari perjalanan dan kesuksesan hidupnya.
Tiga nasihat yang bisa aku ambil adalah bahwa dalam membekali kehidupan di dunia ini kita memerlukan KECERDASAN, KEBERANIAN, DAN UANG/ HARTA, itu nasihat yang aku terima dari beliau yang mengajak senam selama ini, untuk penjelasannya silahkan direnungi sendiri ya.. :)
Sedangkan nasihat yang aku terima dari guru senam dari China itu adalah bahwa alam ini ibarat seperti ibu yang mencurahkan kasih sayangnya kepada kita yang tinggal di bumi ini, jadi kita pun harus memperlakukannya dengan lembut. Pun dengan tubuh ini harus diperlakukan dengan penuh kasih sayang dan cinta.

Sabtu, 27 Juni 2015

DAUN JAMBU YANG TERBELAH




Seorang pemuda yang sudah matang dan penuh dengan optimisme menjalani hidupnya yang masih sendiri serta senantiasa berusaha mewujudkan impian-impian besarnya walaupun tampak berat. Ia mendapatkan sebuah kejutan yang benar-benar membuatnya sangat bahagia.

Diawal tahun dia mendapatkan sebuah hadiah dari seorang teman baiknya, hadiah itu terbungkus sangat rapi nan menawan, sangat menarik untuk dipandang meskipun belum bisa dibukanya saat itu juga. Kemudian sang teman menyerahkan hadiah itu dan juga sepucuk surat diatasnya, 'bacalah surat ini terlebih dahulu sebelum membuka hadiah ini', sang pemuda pun bergegas untuk pulang dan segera membuka sepucuk surat yang dibawanya, di surat itu tertulis 'bukalah hadiah itu setelah mendapat ijin dari pemiliknya'. Dia tampak bingung memikirkan isi surat itu, dia bertanya-tanya siapa pemilik dari hadiah tersebut. 

Hari demi hari iapun mencari-cari tahu siapa pemilik hadiah itu, bahkan iapun ingin membuka hadiah itu karena merasa tidak ada yang tahu, namun niat untuk membukanya ia urungkan karena ia berprinsip walau tidak ada orang yang tahu ada Sang Maha Melihat yang senantiasa mengawasinya. Hari demi hari, tiap ia di rumah, ia pandang hadiah itu, seolah ada harapan besar yang mungkin dia rajut, ada impian besar yang mungkin dia gapai, ada potensi besar yang mungkin bisa ia kembangkan setelah membuka hadiah itu. Bahkan ketika ia keluar rumah ia pun mulai terus terpikir tentang isi hadiah itu, bahkan ketika di musholla iapun terus dihantui rasa penasaran dari isi hadiah itu yang baru kali itu ia rasakan selama hidupnya.

Tidak terasa sejak diterimanya hadiah itu, lima bulanpun berlalu dan diapun belum menemukan siapa pemilik hadiah itu sebenarnya. Maka diapun mulai sadar bahwa tidak ada yang mampu dimintai pertolongan lagi selain Sang Maha Penolong. Diapun pergi ke musholla tempat biasa dia melakukan sembahyang. Setelah beberapa kali ia lakukan hal itu, benar saja petunjuk itu benar datang, sekarang ia mulai tahu siapa pemilik hadiah itu sebenarnya, walau tempatnya agak jauh dari desa tempat ia tinggal dia bertekad untuk menemui sang pemilik itu hanya demi bisa melihat isi dari hadiah itu. Pagi-pagi sekali sebelum sang mentari terlihat dari ufuknya, iapun pergi meninggalkan desa tanpa membawa hadiahnya. Akhirnya iapun bertemu dengan sang pemilik hadiah itu, namun sang pemuda itu sangat terkejut setengah mati, karena sang pemilik mengatakan 'wahai anak muda bukalah hadiah itu jika kamu ingin dan mampu membukanya'. Sang pemuda dengan gembiranya memeluk sang pemilik dan langsung minta ijin untuk segera pulang berharap bisa segera menikmati isi didalam bingkisan itu.

Sesampainya di rumah dengan mata berbinar-binar dia langsung menuju peti tempat ia menyimpan hadiah itu untuk membukanya. Justru dia merasa lemas, kaget bukan kepalang setelah ia buka peti itu, ia mendapati hadiahnya hilang tidak tahu dimana sekarang berada. Dia merasa kecewa, menyesal karena tidak membawa hadiah itu saat pergi tadi, ia sangat sedih karena ia merasa harapan telah hilang, impian telah musnah, dan cita-citanya lenyap bersama dengan hilangnya hadiah itu, bahkan hampir saja dia putus asa atas kejadian itu. Beruntung dia memililiki teman-teman yang sangat baik, iapun menceritakan kejadian itu kepada teman-temannya. Seketika itu salah seorang temannya mengatakan,

' Katakanlah, 'Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke siang dan Engkau masukkan siang ke malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab. (Ali Imran:26-27)

Setelah menerima nasihat dari teman baik itu iapun mulai rasa tenang, dan sadar bahwa ia telah mulai melupakan Sang Maha Penolong, diakibatkan teralalu memikirkan soal hadiah itu, walau sampai saat inipun lintasan pikiran tentang hadiah itu masih ada. Namun seiring berjalannya waktu ia mulai mendekatkan diri dengan Sang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ia merasa bahwa barang kali hal itu adalah yang terbaik yang Sang Maha Pencipta rencanakan baginya. Ia pun terus mencari hikmah dan pelajaran dibalik peristiwa yang menimpanya. Setidaknya dia bisa merasakan kebahagiaan walaupun hanya lima bulan saja, dimana mungkin orang lain tidak pernah mengecap sedikitpun kebahagiaan yang seperti ia rasakan. Dan dia merasa mungkin hadiah ini tidak yang dia butuhkan namun hanya keinginan semata tanpa dilandasi niat kebaikan. Subhanallah sungguh pemuda yang suka membuat segala sesuatunya menjadi positif, melihat sesuatu dari sudut pandang kebaikan.

-- Dikutip dari Hati --

Semoga sang pemuda dalam cerita itu tetap ikhlas dalam hidupnya dan mendapatkan hadiah yang lebih baik dari yang hilang, dan semoga hadiah yang hilang itu beralih ditangan yang tepat lagi baik.




Minggu, 08 Desember 2013

30 TAHUN BERLALU

Seorang keturunan Adam yang sejak 30 tahun diperkenankan menginjakkan kakinya di bumi ini sedang memperjuangkan mimpi dan impiannya menjadi suatu kenyataan. Tidak semudah yang dibayangkan pada saat sekolah dahulu, bahwa keinginannya menjadi seorang usahawan atau orang sekarang sering mengatakan enterpreuner adalah sesuatu yang mudah untuk diilakukan. Namun ketertarikannya menjadi orang yang bisa menghasilkan uang melalui jual beli sudah terlihat semasa kecil, diceritakan bahwa dia sering kali menjual hasil permainan (gelang karet, kelereng, kartu gambar, dakocan dll) kepada teman sepermainannya, walaupun sekarang ini baru disadarinya bahwa permainan itu seperti layaknya judi, tapi itulah masa kecil yag belum mempertimbangkan halhal seperti itu.
Setelah beranjak remaja dan dewasa, semakin disadarinya bahwa menjadi usahawan adalah sebuah keniscayaan baginya karena dia berfikir dan mendapatkan sebuah perkataan yang menarik "sebaik-baik manusia adah yang bermanfaat bagi yang lain", dia mengartikan, ketika menjadi seorang pengusaha, berapa banyak orang yang bisa bekerja, berapa banyak keluarga yang bisa dihidupi dari mereka bekerja di perusahaannya. Mulailah saat itu dia berfikir bagaimana dia belajar untuk berjualan. Bahka pada saat kuliah dia tidak malu untuk berjualan keripik singkong yang diambilnya dari ibu kosnya sendiri dan menjualnya serta dibawanya sendiri ke kantin kampus tempat dia kuliah. Disamping itu dia pun sangat bangga dengan kota kelahirannya terlihat diapun berjualan kecap bahkan terasi Juwana kebanggaannya ke swalayan di dekat kampusnya yang saat ini dilihatnya swalayan itu sudah bangkrut, sayang sekali.
Kehidupan kampus sebagai mahasiswapun akan selesai ia lalui, dan keinginan menjadi pengusahapun masih dia pegang, diapun berfikir untuk mendapatkan uang yang besar setelah lulus kuliah nanti apakah dengan bekerja dulu ikut orang, tidak masalah baginya, yang penting bisa menabung untuk mendirikan usaha sendiri. Akhirnya kesempatan itupun ada, sebuah program pemagangan ke Jepang dia ikuti dan dia lulus berbagai tes yang telah dia lalui, dia berfikir inilah kesempatan untuk mendapatkan uang sebagai modal usaha nantinya. Diapun sampai dan menginjakkan di negeri sakura yang dia impikan. Di sana bersama 36 orang teman seangkatan mereka shock dan kaget karena sebuah negara maju yang mempunyai kedisiplinan sangat tinggi bahkan boleh dibilang zero toleransi pada saat bekerja, namun berkat kebersamaan merekapun bisa melaluinya saling memotivasi dan support. Bagaimanapun itu semua dilakukan di negeri orang tidak sebebas di negeri sendiri, hal itu dijadikan sebagai "kawah condrodimuko" tempat untuk mengambil banyak pelajaran selain Yen yang didapattkan. Ketabahan, kesabaran, bahkan keimanan disini diuji.
Walaupun negara ini negara maju namun sebuah budaya saling menghormati, ucapan terimakasih masih terjaga walaupun cenderung tertutup, namun apabila mau untuk mengenal merekapun bisa lebih terbuka. Di Jepang mayoritas beragama shinto, budha, kristen, walaupun demikian karena sifat tertutupnya menanyakan agama yang dipeluknya merupakan sesutu yang tabu. Dengan berbagai tantangan, teman-teman disana bisa membangun sebuah komunitas muslim yang mereka namakan KMIK (Keluarga Muslim Indonesia di Kosai) yang kegiatannya adalah kajian islami bahkan kegiatan-kegiatan lainnya.
Bersama teman-temannya dalam komunitas ini diapun ditunjuk sebagai ketua, walaupun dia merasa berat, tapi bagaimanapun itulah hidup bermasyarakat yang harus ada amanah disana.
(Bersambung)

Selasa, 05 Februari 2013

Belajar di Jepang: Inspirasi Manajemen Sampah Rumah Tangga

Belajar di Jepang: Inspirasi Manajemen Sampah Rumah Tangga
Oleh: Rina Fitriana (Lulusan S2 dari Universitas Yamagata)
Sungguh anugerah yang luar biasa dari Sang Maha Pencipta bahwa saya dapat mencicipi hampir 3 tahun menuntut ilmu di Jepang. Bagi saya, menuntut ilmu di luar negeri bukan saja hanya karena ingin melanjutkan pendidikan ke strata yang lebih tinggi. Lebih daripada itu, saya ingin mempelajari masyarakatnya sehingga negara itu dapat maju. Berdasarkan pengalaman saya selama belajar di Jepang, ternyata kemajuan suatu bangsa bukan saja berakar pada pemerintahan yang berwibawa serta amanah, melainkan ditunjang pula oleh kesadaran masyarakatnya yang kuat akan bagaimana caranya menjadi warga yang baik. Sepintas mungkin kalimat pembuka saya bersifat normatif. Akan tetapi, itulah kenyataan yang saya lihat di sana. Segala sesuatu yang dilakukan oleh masyarakat Jepang selalu didasari oleh norma yang bermakna.
Salah satu contoh rutinitas selama di Jepang yang menurut saya sangat inspiratif adalah manajemen sampah rumah tangga. Mungkin kita yang berada di Indonesia kadang-kadang terlupakan akan hal ini dan bagaimana dampak yang dapat ditimbulkan di lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Akan tetapi, saya percaya bahwa perubahan di lingkungan rumahlah yang nantinya dapat menjadi penentu kesadaran bermasyarakat yang bermartabat.
Di Jepang, ketika saya mulai menjalani training bahasa Jepang untuk kurun waktu 7 bulan di Osaka, saya mulai mengenal manajemen sampah. Bahkan sebelum saya tiba di sana, penjelasan mengenai hal tersebut sudah tertulis secara detail yang dikirimkan bersama dengan dokumen lainnya oleh Japan Foundation sebagai pihak sponsor. Pada keterangan di salah satu berkas dituliskan tentang bagaimana seharusnya para trainee ikut serta mengelola sampah di asrama dengan memilah jenis sampah dan memasukkannya pada tong sampah yang tepat. Kesan pertama ketika saya membacanya adalah, “Wah, sungguh begitu teraturnya warga di sana”. Saya sungguh tidak sabar lagi untuk dapat segera tiba di sana dan benar-benar merasakan kehidupan di Jepang secara nyata.
Saya akhirnya tiba di sebuah tempat yang jaraknya tidak jauh dari stasiun Rinku Town, yang merupakan stasiun kereta pemberhentian pertama dari bandara internasional Kansai. Tempat tersebut dinamakan Kansai Japanese Language Center, di mana nanti saya akan menempati asrama yang kamar-kamarnya menghadap Marble Beach. Pantai tersebut merupakan hasil reklamasi yang lokasinya berseberangan dengan bandara internasional Kansai. Saya pun akhirnya diajak berkeliling tempat tersebut, termasuk diperkenalkan dengan manajemen sampah yang berlaku di Osaka dan harus ditaati oleh seluruh warga.
Di sinilah saya bena-benar merasa begitu “malu” pada diri sendiri sambil membayangkan realitas manajemen sampah di Indonesia yang masih belum sterkelola dengan baik. Dalam hati saya pun bergumam, “Seharusnya kita juga bisa seperti mereka yang selalu memelihara lingkungan tetap bersih, nyaman, dan indah dipandang mata”. Saya juga berpikir bahwa masyarakat Indonesia juga mampu untuk dapat menjadi pribadi-pribadi yang teratur dalam segala segi, terlepas dari tingkat pendidikan di masyarakat kita yang beragam. Nyatanya, di Jepang sendiri juga tingkat pendidikan masyarakatnya juga tidak sama. Akan tetapi, mereka dapat memegang konsensus yang sama dalam penataan lingkungan.
Saya merasa begitu beruntung karena ketika di Osaka, saya berkesempatan untuk study tour mengunjungi Maishima Incineration. Tempat ini merupakan sebuah pabrik khusus pengolahan sampah baik organik maupun anorganik. Bersama rekan trainee lainnya, kami dijelaskan tentang tahapan-tahapan pengolahan sampah dengan menggunakan mesin-mesin besar yang canggih. Bangunannya memiliki desain yang sangat unik, tidak seperti bangunan-bangunan di Jepang pada umumnya. Bahkan, menyerupai istana di negeri dongeng. Kami diperlihatkan berbagai cara pengolahan sampah sesuai dengan karakteristiknya. Di sana, ada juga berbagai alat peraga edukatif yang sangat cocok untuk digunakan sebagai media pemahaman bagi anak-anak dalam mengenali berbagai jenis sampah dan pentingnya upaya pemisahan sampah. “Sungguh tempat yang luar biasa, andai saja Indonesia memiliki tempat seperti ini”, pikir saya.
Setelah saya menyelesaikan training bahasa Jepang 7 bulan di Osaka, sebulan kemudian saya mulai masuk program master di Universitas Yamagata. Sesampainya saya di kota Tsuruoka di mana fakultas pertanian tempat saya kuliah berada, saya pun disambut oleh sensei pembimbing dan istrinya. Mereka mengantarkan saya langsung ke apartemen yang sudah beliau pilihkan sesuai dengan budget pribadi saya. Hari itulah saya mendapatkan penjelasan langsung dari pihak pemilik apartemen tentang seluk-beluk apartemen, seperti keadaan ruangan dapur, kamar tidur, kamar mandi, dan termasuk manajemen sampah yang berlaku di Perfektur Yamagata. Saya diberinya selembar kertas besar mirip kalender dan isinya ternyata jadwal pengambilan jenis sampah tertentu pada setiap harinya. Ketika itulah saya menyadari bahwa ternyata pengklasifikasian sampah yang diberlakukan di Yamagata berbeda dengan Osaka.
Seiring berjalannya waktu saya pun mulai terbiasa dengan kehidupan di Jepang. Saya mulai banyak ngobrol tentang hal lain selain masalah riset dengan partner riset saya di laboratorium. Kami pun akhirnya pernah membahas tentang manajemen sampah di Jepang. Dari isi pembicaraan itu pun, saya jadi tahu bahwa setiap perfektur memang memiliki ketentuan yang berbeda dalam hal pemisahan sampah yang dihasilkan di masyarakat. Di Osaka sampah dibagi menjadi tiga golongan, sementara di Yamagata sampah dibagi menjadi lima golongan.
Di Osaka, sampah terbagi atas golongan sampah yang dapat dibakar (moeru gomi: bahasa Jepang atau combustible trash: bahasa Inggris), sampah yang tidak dapat/mudah dibakar (moenai gomi: bahasa Jepang atau non-combustible trash: bahasa Inggris), dan sampah botol minuman yang terbuat dari PET (PET bottle). Berbeda halnya dengan yang ada di Yamagata, di mana sampah dibagi menjadi sampah organik (seperti kertas, sisa-sisa makanan), sampah plastik (seperti kemasan makanan, detergen, dan bahan isi ulang), sampah berbahan logam/kaca/baterai, sampah bahan elektronik/alat listrik, dan sampah botol PET. Walaupun saya bukan warga asli Jepang, informasi yang diberikan telah memudahkan saya untuk mengerti bagaimana cara mengklasifikasikan sampah secara benar sesuai peraturan. Seperti di Yamagata, jadwal pembuangan sampah yang dibuat seperti kalender itu memuat pula deskripsi/contoh-contoh sampah yang termasuk ke dalam golongan tertentu. Dengan demikian jika saya ada keraguan dalam mengenal jenis sampah, saya tinggal membaca deskripsinya saja.
Untuk membedakan antara golongan sampah yang satu dengan yang lain, kantung sampah dengan warna tertentu juga disediakan. Kantung-kantung sampah yang terbuat dari plastic ini dapat ditemukan di supermarket. Di Yamagata, sampah organik harus dimasukkan dalam ke kantung sampah warna coklat, sampah plastik ke kantung warna pink, sampah bahan logam/kaca/baterai ke kantung warna biru, sampah bahan elektronik/alat listrik ke kantung warna hijau, sementara untuk sampah botol PET harus dimasukkan ke kantung kantung warna kuning.
Jadi di apartemen, saya harus selalu menyediakan kelima jenis kantung sampah plastik tersebut. Ketika sudah penuh, saya tinggal menaruh kantung tersebut di bak penampungan sampah yang berada di depan kompleks apartemen, tentunya disesuaikan dengan jadwal yang berlaku. Misalnya, untuk kantung sampah warna coklat akan diambil oleh petugas kebersihan dari penampungan setiap hari Senin dan Kamis, sementara untuk kantung sampah pink dan kuning akan diambil setiap hari Jumat. Nah, petugas pun akan mengambil warna kantung sampah yang sesuai dengan jadwal yang telah ada. Misalkan kita menaruh kantung sampah warna pink di hari Senin, maka hari itu petugas tidak akan mengambilnya dan akan membiarkannya tergeletak di bak penampungan menunggu hingga hari Jumat.
Menurut saya, manajemen sampah seperti ini dapat mulai kita tiru setidaknya untuk di lingkungan rumah. Sekembalinya saya ke Indonesia, saya telah memulai membagi sampah menjadi dua golongan, yakni sampah organik/yang tidak dapat didaur ulang dan sampah yang dapat didaur ulang (seperti kertas, kardus, plastik, berbagai jenis kemasan makanan/bahan pakai/bahan isi ulang, dan berbagai jenis botol).
Mungkin memang di Indonesia belum ada tempat yang memfasilitasi secara khusus pengolahan sampah secara terpisah berdasarkan karakteristik masing-masing. Berbeda dengan Jepang, di Indonesia justru sampah-sampah daur ulang ini menjadi sumber pendapatan bagi banyak pemulung. Oleh sebab itu, dengan konsistensi akan manajemen sampah yang bijaksana, selain berpartisipasi dalam mengurangi volume sampah di TPA kita juga dapat berperan aktif untuk membantu pemulung dalam usahanya mengumpulkan sampah daur ulang. Keuntungan lain juga, bak sampah di depan rumah menjadi lebih tertata dan tidak cepat penuh dengan sampah. Dengan kita memberikan secara langsung kepada pemulung sampah-sampah daur ulang yang telah dipisahkan itu, kebersihan bak sampah menjadi lebih terjaga dan tidak banyak lalat yang beterbangan akibat sampah yang berserakan.
Kontribusi kita sebagai masyarakat kepada negara tidaklah mustahil untuk kita mulai dari ruang lingkup yang kecil, seperti lingkungan rumah. Banyak hal yang dapat kita mulai dari rumah. Selain berguna untuk proses mendidik anak tentang bagaimana cara mengelola sampah yang baik, dengan manajemen sampah rumah tangga yang ekologis dan humanis, kita sendiri dapat menikmati lingkungan rumah yang bersih dan tertib.

Sumber: http://acikita.org/docs/2012/03/15/belajar-di-jepang-inspirasi-manajemen-sampah-rumah-tangga/